Jakarta — Menurut data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), selama beberapa bulan terakhir, khususnya pada bulan Agustus dan September, terjadi peningkatan penjualan mobil. Sepanjang Januari hingga September 2026 terjadi peningkatan 21% dari sisi wholesale (pabrik ke dealer) dan 15,4% secara ritel (dealer ke konsumen), dibandingkan dengan periode sebelumnya. Namun, bagaimana dari sisi konsumen? Bagaimana preferensi mereka? Khususnya generasi milenial dan Z yang saat ini jumlahnya hampir setengah dari total populasi Indonesia, dan tentunya sangat memengaruhi pasar.

Baru-Baru ini Populix meluncurkan laporan terbaru “Decoding Indonesia’s Upper Middle MZs Consumer Signals in the Passenger Car Market”. Studi yang dilakukan terhadap 800 konsumen mobil kelas menengah ke atas ini mengungkap preferensi dan minat dalam pembelian mobil penumpang. Seluruh responden studi memiliki mobil pribadi dan melakukan pembelian dalam lima tahun terakhir.

Susan Adi Putra, Associate Research Director Populix, menjelaskan, “Mobil konvensional saat ini masih mendominasi pasar, meskipun mobil listrik mulai mendapatkan momentum. Satu dari lima responden mengaku tertarik memiliki mobil listrik maupun hybrid, khususnya milenial muda dan Gen Z di rentang usia 25-35 tahun.”

Apabila dibagi berdasarkan jenis, mobil Multi-Purpose Vehicle (MPV) dan Sport Utility Vehicle (SUV) masih sangat mendominasi pasar. Umumnya, mobil dipergunakan untuk bekerja dengan frekuensi penggunaan enam hari dalam seminggu, dengan rerata jarak tempuh 17,6 km per hari. 

Pembelian selanjutnya: mobil tambahan, budget menengah, dan titik berat di inovasi

Setidaknya enam dari sepuluh orang yang dalam setahun ke depan berencana membeli mobil akan memanfaatkannya sebagai kendaraan tambahan, di samping mobil yang mereka miliki saat ini. Rata-Rata budget yang disiapkan pun sekitar Rp493 juta, yang berada di puncak segmen mobil menengah (Rp200-500 juta) dan hampir menyentuh segmen menengah-atas (Rp500 juta-Rp1 miliar).

Rencana pembelian sangat dipengaruhi oleh teknologi, inovasi, dan kepercayaan terhadap merek. Konsumen sangat mempertimbangkan performa mesin, desain futuristik, kualitas premium, serta reputasi pabrikan secara global. 

“Tak heran, minat terhadap mobil listrik meningkat secara signifikan. Sekitar seperempat responden bahkan mengaku sangat tertarik untuk membeli mobil listrik, khususnya merek BYD, Hyundai, dan Wuling. Mereka juga sudah tidak terlalu khawatir mengenai infrastruktur pengisian daya, yang pada studi Populix tahun lalu masih menjadi poin penting dalam pertimbangan pembelian mobil listrik,” ungkap Susan Adi Putra.

Pengguna Toyota, Daihatsu, dan Hyundai jadi yang paling puas

Dari delapan merek mobil penumpang yang paling banyak dibeli dalam lima tahun terakhir, Toyota, Hyundai, dan Daihatsu menempati tiga posisi teratas dalam hal kepuasan pelanggan. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kepuasan tersebut, mulai dari keandalan dan kinerja mesin yang menjadi pertimbangan penting bagi pengguna Hyundai dan Mitsubishi, hingga kenyamanan berkendara yang menonjol bagi pengguna Mitsubishi. Desain modern dan menarik juga menjadi faktor penting bagi pengguna Wuling, Hyundai, dan BYD, sementara efisiensi energi menjadi keunggulan yang banyak diapresiasi oleh pengguna Suzuki dan Daihatsu.

Pengalaman kepemilikan yang baik tidak hanya terbatas pada kendaraannya saja. Populix menemukan bahwa mayoritas pengguna mengharapkan tiga layanan purna jual; mulai dari kualitas pengerjaan, ketersediaan suku cadang, hingga profesionalisme staf servis dalam menjelaskan masalah kendaraan. Harapan-harapan ini secara umum telah dipenuhi oleh merek-merek otomotif terkemuka, yaitu Toyota, Honda, dan Hyundai.

Petakan asosiasi merek, mulai dari fitur satuan, layanan purna jual, hingga paket paling komplit

Pada studi ini, Populix juga melakukan pemetaan asosiasi merek melalui analisis pendapat responden. Pemetaan ini terbagi menjadi tiga faktor, yaitu produk, teknologi dan desain, serta nilai kepemilikan dan kepercayaan. 

"BYD memimpin inovasi dan teknologi mutakhir; Daihatsu dikenal karena layanan purna jualnya; Honda dan Toyota memiliki nilai jual kembali yang tinggi; Hyundai dikenal sebagai paket komplit di sisi keamanan, kenyamanan, fitur, dan penggunaan; Mitsubishi dipercaya dalam kualitas mobil dan kenyamanan berkendara; Suzuki memiliki garansi dan perawatan terbaik; dan Wuling dianggap sebagai pionir EV di Indonesia," jelas Susan Adi Putra.

Berikut adalah asosiasi merek berdasarkan pendapat konsumen, diurutkan sesuai alfabet dengan penyebutan asosiasi terkuat di awal:

BYD:
- Inovatif dan dilengkapi teknologi mutakhir
- Desain premium

Daihatsu:
- Layanan purna jual dan jaringan dealer yang luas
- Garansi mesin dan perawatan gratis yang panjang

Honda:
- Nilai jual kembali yang kompetitif
- Nilai jual kembali yang tinggi
- Performa mesin yang kuat (akselerasi, pengereman, pengendalian, tenaga mesin)

Hyundai:
- Paket komplit (keamanan, kenyamanan, fitur, dan penggunaan)
- Desain premium
- Inovasi teknologi dan konektivitas

Mitsubishi:
- Kualitas mobil yang kuat dan solid
- Nyaman dikendarai (suspensi yang bagus, senyap, dan stabil)

Suzuki:
- Layanan purna-jual dan jaringan dealer yang luas
- Harga sesuai kualitas yang didapatkan

Toyota:
- Nilai jual kembali yang kompetitif
- Nilai jual kembali yang tinggi
- Performa mesin yang kuat (akselerasi, pengereman, pengendalian, tenaga mesin)

Wuling:
- Pionir segmen mobil listrik

"Meskipun analisis ini cukup bias karena mungkin tidak sesuai dengan data konkret, asosiasi merek yang ditampilkan menggambarkan bagaimana masing-masing brand dilihat dari kacamata konsumen. Maka dari itu, tiap brand perlu memastikan apakah nilai kuat yang mereka tonjolkan sudah cukup tersampaikan, atau malah harus menyesuaikan kembali untuk menjaring lebih banyak pengguna,” akhir Susan Adi Putra. (*/yogi) 
OTOBanten

OTOBanten.id

OTOBanten.id merupakan Media Online Berita Otomotif Seputar Banten dan Nasional

Post A Comment: