Singapura – Tim Helios asal Singapura berhasil dinobatkan sebagai juara Asian Hackathon for Green Future 2026, kompetisi yang berfokus pada pengembangan solusi berbasis teknologi untuk mendukung masa depan yang berkelanjutan. Tim yang beranggotakan dua mahasiswa, Pratham Ranjan dan Alok Vernekar dari Nanyang Technological University (NTU), sukses mengungguli 439 tim dan hampir 1.500 peserta dari 22 negara dan wilayah.

Kompetisi ini diselenggarakan bersama oleh tiga organisasi nirlaba di bawah naungan Vingroup, yakni For Green Future Foundation, VinUniversity, dan Vingroup Young Technology Talent Club (VinTechTalent). Ajang ini merupakan hackathon lingkungan berskala Asia pertama yang digelar di Vietnam dan secara khusus diperuntukkan bagi mahasiswa sarjana serta magister. Babak final sekaligus malam penganugerahan berlangsung pada 4 Juli di VinUniversity, Hanoi.

Tim Helios meraih hadiah utama senilai USD 8.000 melalui proyek berjudul "An Urban Simulation Platform for Low-Carbon Infrastructure". Solusi tersebut menjawab tantangan yang dihadapi banyak kota, yakni bagaimana memastikan efektivitas proyek infrastruktur hijau sebelum mengalokasikan investasi dalam jumlah besar.

Platform simulasi perkotaan yang dikembangkan tim ini memungkinkan pengguna menguji berbagai opsi, seperti pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik, transportasi publik, energi surya, hingga infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim. Platform tersebut juga mampu memprediksi dampaknya terhadap perilaku perjalanan masyarakat, emisi karbon, biaya, dan sistem kelistrikan. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat menentukan proyek yang layak didanai, menghindari pemborosan anggaran, serta mempercepat transformasi menuju kota rendah karbon.

Posisi juara kedua dengan hadiah USD 5.000 diraih oleh Tim VFluxion dari University of Information Technology, Vietnam National University Ho Chi Minh City, Vietnam. Tim yang terdiri atas Nguyen The Anh, Vu The Vinh, Tran Hung Vi, dan Do Thi Nhu Y ini menghadirkan solusi untuk mendukung transisi menuju mobilitas hijau melalui integrasi kendaraan listrik dengan sistem energi perkotaan.

Mereka mengembangkan platform yang mengoordinasikan proses pengisian dan penyaluran daya dua arah (bidirectional charging), sehingga kendaraan listrik tidak hanya berfungsi sebagai pengguna energi, tetapi juga sebagai penyimpanan energi terdistribusi yang dapat membantu menyeimbangkan kebutuhan listrik saat diperlukan. Solusi ini diharapkan mampu mengoptimalkan penggunaan energi, meningkatkan stabilitas jaringan listrik, mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik cadangan beremisi tinggi, serta menjaga usia pakai baterai kendaraan listrik.

Sementara itu, dua Juara Ketiga, masing-masing memperoleh hadiah USD 3.000, diraih oleh dua tim asal Vietnam, yakni Future Greener dan ALT F4.

Tim Future Greener, yang beranggotakan Nguyen Nguyen Tam Nhu, Truong Dong Hung, Pham Ho Kim Ngan, dan Bui Hoai Ngoc dari UEH.ISB Honours College, University of Economics Ho Chi Minh City, serta kampus FPT University Ho Chi Minh City, mengembangkan solusi untuk pengelolaan siklus hidup baterai kendaraan listrik.

Platform yang mereka ciptakan mampu melacak informasi baterai sepanjang masa penggunaannya, melakukan penilaian terhadap kondisi baterai, serta memberikan rekomendasi apakah baterai layak digunakan kembali atau harus didaur ulang. Solusi ini diharapkan dapat mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat limbah baterai, meningkatkan transparansi pasar kendaraan listrik bekas, sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam industri baterai.

Adapun Tim ALT F4, yang terdiri atas Nguyen Tuan Minh, Nguyen Thanh Vinh, dan Tran Phi Anh Nhat dari University of Science, Vietnam National University Hanoi, British University Vietnam (BUV), serta Hanoi University of Science and Technology, meraih Juara Ketiga berkat sistem peringatan dini intrusi air laut.

Sistem tersebut memantau kondisi perairan di kawasan muara sungai, memprediksi risiko intrusi air laut hingga 24–72 jam sebelumnya, serta mengirimkan peringatan dalam bahasa Vietnam langsung ke telepon genggam petani dan pemerintah daerah. Peringatan dini tersebut memungkinkan langkah antisipatif seperti penutupan pintu air, perlindungan cadangan air tawar, serta penyesuaian sistem irigasi untuk mengurangi gagal panen, melindungi mata pencaharian petani, dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Panitia juga memberikan lima Penghargaan Harapan senilai USD 1.000 masing-masing kepada Project Gaia (Vietnam), AVERTIX (India), ReRootSG (Singapura), Forust (Hong Kong, China), dan Seekers (India).

Untuk mencapai babak final, sebanyak 30 tim terbaik menjalani proses seleksi dan pembinaan selama hampir tiga bulan. Dari total 439 tim yang mengirimkan proposal proyek dan video presentasi pada tahap awal, 30 tim terpilih mengikuti pelatihan daring selama satu bulan bersama para ahli multidisiplin guna mempertajam pendekatan pemecahan masalah sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan final.

Di VinUniversity, seluruh finalis mengikuti hackathon intensif selama 36 jam. Selama periode tersebut, mereka menganalisis berbagai tantangan nyata, mengembangkan solusi, membangun prototipe yang berfungsi, serta menyempurnakan presentasi akhir dengan pendampingan para mentor dari perusahaan teknologi di bawah Vingroup.

Managing Director For Green Future Foundation Vingroup, Dr. Thai-Ha Le, mengatakan hasil kompetisi ini menunjukkan bahwa Vietnam memiliki potensi besar menjadi pusat kolaborasi talenta muda Asia dalam inovasi untuk pembangunan berkelanjutan.

"Yang membuat kami bangga adalah Asian Hackathon for Green Future 2026 membuktikan bahwa Vietnam dapat menjadi pusat talenta muda Asia dalam perjalanan inovasi menuju pembangunan berkelanjutan. Di sini, berbagai gagasan lintas negara tidak hanya dipertukarkan, tetapi juga diuji, disempurnakan, dan diwujudkan menjadi solusi nyata yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat," ujarnya.

Mulai dari sektor energi, transportasi, perubahan iklim, sumber daya air hingga pertanian, berbagai tantangan lingkungan di Asia kini semakin melampaui batas negara dan membutuhkan kolaborasi regional. Melalui Asian Hackathon for Green Future, para talenta muda dari berbagai negara dan disiplin ilmu dipertemukan untuk membangun ruang kolaborasi, menggabungkan pengetahuan, teknologi, serta beragam perspektif menjadi solusi yang berdampak nyata.

Setelah sukses menggelar edisi perdana, kompetisi ini akan kembali hadir pada 2027 dengan skala dan jangkauan yang lebih luas. Penyelenggara menargetkan partisipasi lebih banyak talenta muda dari berbagai negara di Asia maupun kawasan lain di dunia untuk bersama-sama mengembangkan solusi menuju masa depan yang hijau dan berkelanjutan. (*/yogi) 
OTOBanten

OTOBanten.id

OTOBanten.id merupakan Media Online Berita Otomotif Seputar Banten dan Nasional

Post A Comment: